Sampah Terdata, Lingkungan Tertata: KKN Berdampak 2026 UNIKOM di Kecamatan Coblong, Bangun Model Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi Menuju Zero Waste

BANDUNG, UNIKOM — Dalam memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kecamatan Coblong melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 2026. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus membangun ruang pembelajaran bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat.

Fokus utama KKN Berdampak di Kecamatan Coblong mencakup edukasi pemilahan sampah dari sumber, pendampingan masyarakat, penguatan tata kelola, pendataan berbasis teknologi, hingga pengembangan ekonomi sirkular. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari kontribusi UNIKOM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pembangunan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan, pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta penguatan kemitraan multipihak. Sebagai bagian dari implementasi program tersebut, UNIKOM secara resmi menurunkan mahasiswa peserta KKN Berdampak ke Kecamatan Coblong pada 12 Agustus 2026. Sekitar 569 mahasiswa dilibatkan untuk berkolaborasi secara langsung dengan masyarakat dan berbagai unsur pemerintahan wilayah dalam menjalankan program pengelolaan sampah yang telah disiapkan.

PIC sekaligus Koordinator Program KKN Berdampak UNIKOM, Dr. Nungki Heriyati, S.S., M.A., menjelaskan bahwa KKN Berdampak merupakan bentuk kolaborasi UNIKOM dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dirancang untuk menghubungkan proses pembelajaran mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. “Pada kesempatan ini UNIKOM menerjunkan kurang lebih 569 mahasiswa ke Kecamatan Coblong. Fokus utamanya adalah pengentasan persoalan sampah, khususnya di wilayah Kecamatan Coblong”, jelas Dr. Nungki.

Para mahasiswa akan berkolaborasi dengan unsur kelurahan, petugas pengelolaan sampah, serta masyarakat di tingkat RW dan RT. Kolaborasi tersebut diarahkan terutama untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah, sekaligus mendampingi masyarakat agar praktik tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

KKN Berdampak sebagai Implementasi SDGs

Pengelolaan sampah yang menjadi fokus KKN Berdampak memiliki keterkaitan langsung dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan. Melalui upaya membangun lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan, program ini mendukung SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Edukasi pemilahan sampah dari rumah, pengurangan sampah, pemanfaatan kembali material, serta pengembangan ekonomi sirkular juga sejalan dengan SDG 12: Responsible Consumption and Production.

Di sisi lain, pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan pemanfaatan kembali material memiliki relevansi dengan upaya mengurangi dampak lingkungan serta mendukung SDG 13: Climate Action. Sementara keterlibatan UNIKOM, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kecamatan Coblong, kelurahan, RT/RW, masyarakat, serta perangkat daerah terkait mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals.

Mahasiswa Belajar, Masyarakat Mendapat Dampak

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIKOM sekaligus Ketua Pelaksana KKN Berdampak UNIKOM 2026, Prof. Dr. Hj. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., menegaskan bahwa KKN Berdampak merupakan rangkaian pembelajaran yang telah dipersiapkan melalui pembekalan mahasiswa dan survei lapangan sebelum mahasiswa diterjunkan ke masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Melalui KKN Berdampak, mahasiswa belajar melihat kondisi nyata di lapangan, berkolaborasi dengan masyarakat, dan mengimplementasikan soft skill yang mereka miliki”, tutur, Prof. Umi.

Untuk memastikan pelaksanaan KKN berjalan terarah dan terukur, mahasiswa didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). UNIKOM juga menyiapkan sistem digital untuk membantu memonitor aktivitas mahasiswa dan DPL di lapangan. Setiap aktivitas mahasiswa akan dicatat melalui sistem, termasuk lokasi, waktu, jenis kegiatan, serta dokumentasi pelaksanaan. Sistem tersebut dirancang untuk membantu memastikan mahasiswa menjalankan aktivitas sesuai program yang telah ditetapkan sekaligus menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi.

Dari sisi akademik, kegiatan KKN Berdampak juga terintegrasi dengan proses pembelajaran melalui skema rekognisi Satuan Kredit Semester (SKS). Dr. Nungki menjelaskan bahwa secara skema, kegiatan KKN dapat direkognisi hingga maksimal 20 SKS, namun penerapannya disesuaikan dengan kebijakan dan kurikulum masing-masing program studi. “Konversi ke SKS itu kurang lebih maksimal 20 SKS, tetapi nanti bergantung dengan program studi. Ada program studi misalnya Manajemen yang mengambil skema 10 SKS, dan beberapa program studi yang memiliki mata kuliah wajib tetap menjalankan perkuliahan pada satu atau dua mata kuliah”, jelasnya.

Berangkat dari Persoalan Nyata

Pengembangan KKN Berdampak UNIKOM dilakukan berdasarkan identifikasi persoalan yang ditemukan di lapangan. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., selaku dosen FTIK UNIKOM yang terlibat dalam pengembangan KKN Berdampak UNIKOM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak diposisikan sebagai sebuah proyek sosial yang dikerjakan secara serius dan terstruktur, bukan sekadar kegiatan administratif perguruan tinggi. “Jadi KKN Berdampak ini sesuatu proyek sosial yang bisa kita kerjakan dengan sungguh-sungguh”, ungkap Dr. Agus. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan sekadar membawa solusi dari kampus ke masyarakat, melainkan dimulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat atau bottom-up approach.

Dalam konteks pengelolaan sampah, persoalan dipetakan ke dalam tiga bagian, yaitu hulu, tengah, dan hilir. Pada tingkat hulu, persoalan utama yang ditemukan adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. “Problem besarnya adalah di hulu, pemilahan. Sehingga pendekatan yang kami lakukan adalah pendekatan persuasif edukatif,” terang Dr. Agus. Pendekatan tersebut juga dilakukan melalui edukasi, pemberian contoh, pendampingan, dan apresiasi kepada masyarakat yang mulai menerapkan pemilahan sampah.

“Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”

Untuk memperkuat tata kelola, UNIKOM menyiapkan pendekatan berbasis teknologi melalui sistem pendataan sampah. Tempat sampah terpilah akan dilengkapi kode identifikasi berbasis QR yang dapat dihubungkan dengan aplikasi mobile. Sistem tersebut dirancang untuk menghubungkan tempat sampah dengan rumah atau pemiliknya sehingga aktivitas pengelolaan sampah dapat tercatat secara lebih sistematis.

Dengan dukungan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem tersebut dirancang untuk membantu mengidentifikasi kondisi tempat sampah, termasuk volume serta karakteristik sampah organik dan non organik. Data yang terkumpul nantinya dapat membantu petugas menentukan prioritas pengangkutan sekaligus memberikan gambaran mengenai produksi sampah di setiap wilayah. Pada tingkat RT, RW, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH), data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan dan kebijakan pengelolaan sampah.

Konsep tersebut dirangkum dalam semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata.” Menurut Dr. Agus, pendekatan berbasis data penting agar kebijakan tidak hanya dibuat berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan kondisi faktual di lapangan. “Kalau perlu menambah orang, kita punya data. Kalau perlu menambah infrastruktur atau alat angkut, kita punya data operasional yang sudah kita miliki,” jelasnya.

Dari Sampah Menjadi Ekonomi Sirkular

KKN Berdampak UNIKOM juga membawa pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah. Sampah organik berpotensi diolah menjadi pakan maggot, sedangkan sampah non organik dapat disalurkan melalui bank sampah maupun dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai guna. Salah satu contoh yang dipersiapkan adalah pemanfaatan botol bekas menjadi pot tanaman dan bagian dari pengembangan hidroponik. Pemanfaatan tersebut dapat dikolaborasikan dengan program “Buruan Sae” di Kota Bandung.

UNIKOM juga membuka peluang pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses budidaya, seperti sistem penyiraman dan pemupukan berbasis teknologi. “Target besarnya adalah menurunkan volume sampah per hari per wilayah, menaikkan tingkat kesadaran, lalu menghasilkan manfaat baru. Itu yang kita akan bangun, namanya circular economy”, tutur, Dr. Agus.

Kecamatan Coblong Dorong Konsistensi hingga Zero Waste

Camat Coblong, Ratna Rahayu Pitriyati, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif UNIKOM yang menjadikan Kecamatan Coblong sebagai salah satu lokus pelaksanaan KKN Berdampak. Menurutnya, persoalan sampah merupakan isu strategis di Kota Bandung yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kehadiran UNIKOM dinilai dapat memperkuat upaya pemerintah kecamatan, kelurahan, dan masyarakat dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif. “Luar biasa apresiasi sebesar-besarnya kepada UNIKOM yang telah menginisiasi kegiatan yang nantinya pasti akan memberikan kontribusi dan dampak yang luar biasa”, tuturnya.

Ia menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dapat menjadi contoh yang mendorong keterlibatan perguruan tinggi lainnya untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat. Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KKN Berdampak. “Mari kita dukung, mari berkolaborasi, mari bekerja sama dan mari sama-sama menciptakan lingkungan yang bersih, asri, bebas dari sampah”, tegasnya.

Lebih jauh, Kecamatan Coblong berharap dampak KKN dapat terus berlanjut setelah mahasiswa menyelesaikan programnya. Konsistensi menjadi salah satu output utama yang diharapkan sehingga pemilahan dan pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi budaya masyarakat. “Output yang paling kami inginkan adalah konsistensi. Diharapkan nanti terjadi perubahan dalam pengolahan sampah, bahkan menjadi kecamatan zero waste”, pungkasnya

UNIKOM Bangun Role Model Pengelolaan Lingkungan

Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan tidak hanya diarahkan kepada masyarakat, tetapi juga dimulai dari internal UNIKOM. Dr. Agus Mulyana, S.Kom., M.T., menjelaskan bahwa UNIKOM tengah memperkuat tata kelola sampah di lingkungan kampus melalui penyediaan fasilitas pemilahan, edukasi, serta upaya membangun kesadaran dan kepatuhan sivitas akademika.

Di lingkungan UNIKOM, pemilahan diarahkan ke dalam beberapa kategori, yaitu organik, non organik, residu, serta material yang dapat didaur ulang. “UNIKOM harus menjadi role model di internalnya sendiri”, ungkap Dr. Agus. Menurutnya, perubahan perilaku tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi. Pendekatan persuasif dan edukatif diperlukan agar pemilahan sampah berkembang dari sekadar kesadaran menjadi kepatuhan dan akhirnya menjadi kebiasaan.

Kolaborasi untuk Dampak yang Berkelanjutan

KKN Berdampak 2026 di Kecamatan Coblong menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memainkan peran strategis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Mahasiswa menjadi bagian dari proses perubahan, dosen berperan dalam pendampingan dan penguatan metodologi, pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan koordinasi wilayah, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program.

Bagi mahasiswa, KKN menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, pemecahan masalah, serta kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata. Sementara itu, bagi pemerintah, kolaborasi tersebut diharapkan menghadirkan tambahan sumber daya, gagasan, pendampingan, serta data yang dapat memperkuat pengambilan kebijakan. Sementara bagi masyarakat, program ini diharapkan memberikan pengetahuan, pendampingan, sistem pengelolaan, serta peluang pemanfaatan sampah menjadi sumber daya yang bernilai.

Pada akhirnya, keberhasilan KKN Berdampak tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Dampak yang lebih penting adalah perubahan perilaku masyarakat, berkurangnya volume sampah, tersedianya data, tumbuhnya ekonomi sirkular, serta keberlanjutan sistem yang dibangun setelah program berakhir. Melalui semangat “Sampah Terdata, Lingkungan Tertata”, UNIKOM bersama Kecamatan Coblong berupaya membangun model pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pendidikan, teknologi, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaboratif. Dari kampus ke masyarakat, dari sampah menjadi data, dari data menjadi kebijakan, dan dari kolaborasi menjadi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan. (Direktorat Hms & Pro)

Berita Lainnya

Belum ada berita terbaru.